
Dapur kecil harus berasap, tidak boleh tidak. sebelum mama saya belum meninggal, mama tidak perna berkata tentang nilai-nilai budaya. tapi, dalam prakteknya mama punya banyak Ilmu yang mama gambarkan.
Tiap hari mama keluar masuk danau paniai juga kebun dan tiap saat di dapur tungku api mama pasti masak ubi ikan udan Dagouto dibara api. walaupun ada nasi yang kami masak, pasti mama masak ubi ikan udan dll juga.
Kisa cinta bersama nogei dan ogei di Dagouto itu,
Kisah cerita ini menggajarkan kita untuk bertekun pada apa yang kita kerjakan dan apa yang kita impikan. kejujuran pada orang tua kita sebagai wakil Allah lebih penting daripada kejujuran pada wanita atau pria yang kita membagun komunikasih.
Tidak penting apapun yang datang dengan sesuatu dengan kemewaan apapun. kemewaan itu ada batas waktunya tapi ilmu dalam profesi adalah abadi selagi manusia itu bernafas”
“Anak kampung Menghormati tungku api dan belajar diri ilmu kehidupan”
Silakan kamu berceitakan saya sebab, saya anak kampung.”
Bersosial di Kampung halamanku disini tungku api sedikit saya sejenak dalam waktu yang tidak lama ” hanya 10 menit,”
Dipandang orang besar aktifitas ini kurang bobot tapi, kebiasaan orang gunung adalah tunggu api harus dinyalakan, belarti kita tahu bahwa, tunggu api asap naik belarti ada masak sesuatu maka dengan itu banyak persolan yang harus kita belajar tentang kehidupan ini jadi banyak soal sekitar tunggu api.” (Nobatkan persoalan perut adalah menutupi segala gejala keterbrukan negatife dalam keluarganya)
Berbahagialah mereka yang kenal sebagai ilmu kehidupan ini, apa itu kehidupan yang sebenarnya? Walau anda bupati, DPR/D, pejabat, PNS, mempunyai perusahaan dll, (apapun yang anda banting tulang atau memperjuangan diri adalah untuk masalah perut ia tidak hilang” tungku api harus berasap nilai kehidupan sebagai tututan itu bukan buatan merakyt melainkan tuntutan tunggu api itu masalah perut menghadirkan Surga dibumi” mari merapat disini tunggu api manusia sehat, pikiran sehat lingkungan sehat dll.
Dari sisi manusia, dimengerti sebagai suatu tempat di mana manusia dapat meletakkan, melandaskan dan menumpukan semua pemikiran, perasaan dan pengharapan akan kehidupan dan keselamatan baik secara perorangan-individual maupun secara bersama-kolektif. Tempat dimana segenap ‘kerohanian manusia’ berpijak, bertumpu, bertumbuh dan berkembang serta berharap atau berpengharapan, dan menuju terarah.
Dari sisi rohani, dimengerti sebagai suatu tempat dimana Roh Sang Manusia Koyeidaba hadir, hidup dan aktif berkarya-cipta dalam bentuk (wujud) memelihara tumbuhan-tumbuhan dan tanaman-tanaman makanan kehidupan dan keselamatan yang secara langsung, konkrit dan nyata akan menjadi makanan-makanan dan minuman-minuman sebagai santapan jasmani-rohani serta memberikan aspirasi-aspirasi dalam berpikir, berkata-kata dan beraktivitas sehari-hari sambil mendiskusikan dan mensharingkan
Persoalan tunggu api sebagai ‘Sabda Sumber Aspirasi mengenai segala Jalan-Jalan Kehidupanb dan Keselamatan Manusia.
Itulah nilai hidup dasar (falsafah) Orang Mee yang diwarisi sejak jaman nenek moyang sebelum agama dan pendidikan masuk di Tanah Papua. Jika dilihat dari asal muasalnya, maka ia lahir murni sebagai produk hasil daya, karya dan karsa manusia. Sehingga setiap orang hendaknya hidup mengacuh padanya karena ia sangat berkaitan erat dengan akal budi dan hati nurani. Dengan cara demikian tentunya setiap pribadi akan jauh dari segala malapetaka
Ada 3 uruf I R I (iri)”
Tidak perlu iri degan pendapatan orang lain
Terserah mereka mau megatakan tentang diriku, itu mulut mereka, susah senang aku yang lalui, bukan mereka/kamu ( N o g e i ).
Tidak perlu penilai tentang diriku,
biarkan sesuai diriku dan dirimu
Ini bukan kehidupan mu
Tapi kehidupan qu hormat.
Traditional Suku Mee
By ; Abet Mote